Rabu, 11 Januari 2017

Perbanyakan Aglaunema

PERBANYAKAN AGLAONEMA SECARA
VEGETATIF

Laporan Praktek Kerja Industri di UPT Balai Benih TPH
Provinsi Kalimantan Selatan




Oleh
AGUS SETIAWAN
NIS  :  111534
Kelas  XI
Program Keahlian Agribisnis Tanaman Pangan dan Hortikultura



SMK NEGERI 1 TAPIN SELATAN
DINAS PENDIDIKAN KABUPATEN TAPIN
TAHUN 2012

BAB  I.  
 PENDAHULUAN

A.           Latar Belakang
Aglaonema atau yang lebih dikenal dengan sebutan Srirejeki ini sudah tidak asing lagi ditelinga masyarakat. Sesuai dengan namanya tanaman ini diyakini sebagian orang mampu membawa hoki (keberuntungan) atau rezeki bagi pemiliknya.
Berdasarkan penempatannya aglaonema digolongkan sebagai tanaman hias indoor (tanaman hias dalam ruangan), yaitu tanaman yang menyukai tempat teduh. Penempatan aglaonema pada tempat terbuka dan terkena sinar matahari langsung dapat menyebabkan daun menguning dan kering sehingga menyebabkan pertumbuhannya terganggu. Lingkungan tumbuh optimal aglaonema adalah menyukai tempat yang berintensitas matahari tidak lebih dari 75 %dengan tingkat kelembapan nisbi 50 % - 60 %.
Sebagai tanaman hias, penggolongan aglaonema berdasarkan point of interest (yang menjadi titik perhatian) dikelompkkan kedalam jenis tanaman hias berdaun indah, artinya fokus atau yang menjadi titik pusat perhatian tanaman ini bukan pada bunganya melainkan pada bagian daun.
Pemahaman pada penggolongan tanaman aglaonema ini sangat penting untuk mengetahui sifat dan lingkungan pertumbuhan yang sesuai dan optimal, sehingga tidak merugikan ketika melakukan kegiatan budidaya.
Kepopuleran aglonema membuat nilai jualnya cukup stabil dipasaran, untu  sebuah aglaonema kecil berdaun 4 – 5 lembar mempunyai kisaran harga Rp. 25.000 – Rp. 30.000. Hadirnya bermacam-macam  jenis baru mempuat pasar aglonema semakin semarak dan menjadikan bisnis aglonema semakin diminati. Usaha budidaya dan perbanyakan aglonema disela kesibukan ternyata mampu untuk menambah penghasilan atau menjadikan kegiatan ini menjadi usaha komersial
B.    Tujuan
1.        Mengenal tanaman aglonema lebih mendalam.
2.        Mempelajari teknik dan teknologi perbanyakan secara vegetatif tanaman aglaonema.
3.        Mengetahui permasalahan dalam perbanyakan aglaonema dan cara mengatasinya

B.       Tujuan Prakerin
1.      Untuk mengetahui dunia usaha yang sesungguhnya.
2.      Memperluas wawasan dalam bidang pertanian.
3.      Menambah pengetahuan yang belum ada di sekolahan.

BAB  II.
 PERBANYAKAN AGLAONEMA SECARA
VEGETATIF


A.           Waktu dan Tempat Pelaksanaan
Kegiatan Praktek Kerja Industri ini dilaksankan mulai tanggal 18 Juli dan berakhir pada tanggal 28 Oktober 2012.
Pelaksanaan bertempat pada Unit Pelaksana Teknis Balai Benih Tanaman Pangan Dan Hortikultura Propinsi Kalimantan Selatan di Kelurahan Guntung Payung Kecamatan Landasan Ulin Banjarbaru Kota.
B.                 Deskripsi Aglonema
Aglaonema merupakan famili dari Araceae mempunyai tinggi yang beragam dari pulhan sentimeter hingga ratusan sentimeter, tipe pertumbuhannyapun beragam ada yang mudah  mempunyai tunas anakan dan ada yang  sedikit menghasilkan tunas anakan semua tergantung dari jenisnya.
Tanaman ini sering terlihat dipajang di kantor, gedung pemerintah, gedung sekolah, bahkan di ruang rumah pribadi karena dapat memperindah dan  menciptakan kesegaran dan kenyamanan ruangan. Selain itu tanaman aglaonema yang berada disekitar tempat rutinitas pekerjaan dapat menangkal kejenuhan, kejemuan, dan kelelahan mental sehingga secara tidak langsung dapat meningkatkan gairah kerja, ketentraman, dan kejernihan berfikir secara psikologis.
Daya tarik utama tanaman ini adalah pada bagian daunnya, warna daun yang sangat bervariasi dan bentuk tajuk yang simetris merupakan perpaduan yang mempunyai nilai estetika yang tinggi. Berbagai motif dan warna daun pada bergam jenis aglaonema adalah putih, merah muda, merah tua, hijau , dan bergam kombinasi warna. Namun untuk saat ini agalaonema yang mempunyai nilai komesial tinggi adalah jenis yang mempunyai nuansa daun berwarna merah.
Jenis –jenis aglaonema yang biasa dijumpai dipasaran dan banyak dijadikan sebagai tanaman koleksi diantaranya adalah: Green Ice, Chocin Hibrid, Super Red, Lipstik, Srikandi, Pink Lady, Lady Valentine, Red Wine, Hang Hang, Pride Sumatera, Snow White dan lain-lain. Untuk saat ini harga jual paling tinggi masih dimilki pada jenis Super Red, aglaonema jenis ini mempunyai kisaran harga jual Rp. 150. 000.- untuk perlembar daunnya. Aglaonema Super Red mempunyaI nuansa daun 90 % berwarna merah tua dengan sedikit warna kehijauan pada tepi daunnya.
Sebagai tanaman pembawa keberuntungan, aglaonema  mudah ditanam. Media tanam yang dikehendaki pada prinsipnya porous, drainase dan aerasi yang baik dan kandungan unsur hara terpenuhi. Bila semua kondisi terpenuhi maka tanaman ini bisa tumbuh dengan sehat.
Para penghobi dan penangkar aglaonema mempunyai komposisi media tanama yang bergam, Komposisi media tanam yang hendak dijadikan pilihan pada dasarnya memperhitungkan beberapa hal, diantaranya ketersedian bahan baku yang mudah didapat di wilayah dan nilai ekonomis. Para penangkar di Jawa Timur khususnya wilayah Malang memiliki komposisi media tanam ; pasir malang, cocopeat, cacahan pakis, dan pupuk kandang. Sedangkan para penangkar di Kalimantan Selatan khususnya wilayah Banjarbaru memiliki   komposisi media tanam yaitu; sekam bakar, sekam mentah, tanah subur, pupuk kandang dengan perbandingan volume bahan adalah : 2 : 1 : 1 : 1. Pada komposisi ini porsi sekam bakar dibuat lebih banyak yakni 2 bagian dengan maksud menambah pourositas media. Aglaonema pada dasarnya tanaman yang rentan terhadap kekeringan namun juga tidak menyukai media tanamam yang terlalu basah,media tanama yang tergenang untuk waktu yang lama justru menyebabkan rawan pembusukan pada akar aglaonema. Sekam Bakar juga berperan sebagai buffer (penyangga) sehingga media tanam tidak cepat terdekomposisi serta dapat mencegah pliuktuasi perubahan pH pada media.
C.           Teknik Perbanyakan
Seperti tanaman lainnya, aglaonema juga mempunyai bagia-bagian tanaman secara lengkap yaitu akar, batang , daun, bunga, dan buah. .
Secara umum perbanyakan tanaman dapat digolongkan menjadi 2 golongan, yaitu perbanyakan secara generatif dan vegetatif.  Perbanyakn secara generatif adalah biji hasil perkawinan atau sexual antara tepung sari dan kepala putik. Perbanyakan tanaman secara vegetatif adalah perbanyakan tanaman tanpa  proses perkawinan. Perbanyakan vegetatif dapat dilakukan dengan mengambil bagian tanaman, misalnya akar, batang, daun, dan lain-lain. Perbanyakan vegetatif dapat dilakukan dengan cara yang sederhana seperti setek, cangkok, merunduk dan, kultur jaringan, dengan sitem ini memerlukan kecermatan dan ketelitian dan harus dilakukan di laboratorium dalam keadaan suci hama (Wiryanta, 2003)
Perbanyakan aglaonema secara generatif dilakukan dengan penyilangan untuk menemukan jenis-jenis baru, sedangkan perbanyakan vegetatif pada prinsipnya memperbanyak atau menggandakan aglonema terpilih hasil penyilangan. Perbanyakan vegetatif ini akan mempertahankan keaslian sifat dan karateristik dari induknya.
Secara vegetatif perbanyakan aglaonema dilakukan dengan cara stek batang dan dan pemisahan anakan (split). Dalam makalah ini akan dibahas pada BAB. IV teknik setek dan split aglaonema.
Setek adalah pemisahan bagian tanaman secara langsung ke media tanam atau media pertumbuhan, dengan sisa cadangan makan (karbohodrat, protein, enzim, dan lain-lain)yang ada pada bahan setek mampu menumbuhkan akar  dan pertunasan sehingga menjadi individu sempurna sesuai dengan induknya. Bagian aglaonema yang dapat diperbanyak dengan setek adalah batang, dengan setek batang dapat diperoleh jumlah bibit tanaman dalam jumlah banyak dan bibit yang dihasilkan seragam.
Perbanyakan dengan stek batang , pada pelaksanaanya banyak mengalami beberapa kendala, diantaranya persentasi bahan setek yang berhasil tumbuh sangat sedikit dan bagi bahan setek yang sudah tumbuh perkembangannya sangat lambat. Segala permasalahn yang ditemui ini akan dibahas pada BAB III.
Perbanyakan dengan cara pemisahan anakan pada aglaonema mempunyai tingkat keberhasilan yang tinggi, anakan yang dipisahkan rata-rata  mempunyai perakaran sehingga tanaman yang dipisahkan mudah tumbuh pada media .
                                        BAB  III.
PEMBAHASAN

A.           Setek Batang.
Batang  yang dipergunakan unutk perbanyakan diperoleh dari indukan aglaonema yang telah berumur tua, pada tanaman yang tua batang terlihat telah meninggi dan bagian daunya hanya terletak dibagian atasnya saja, hal ini membuat penampilan aglaonema kurang menarik. Aglaonema yang tua dan batang telah meninggi menyebabkan pertumbuhannya tidak optimal dan cendrung batang akan tumbuh bengkok dan mudah rebah, pada keadaan ini sebaiknya batang dipotong  untuk dijadikan bahan perbanyakan.
Permasalahan yang sering terjadi dalam setek batang adalah banyak batang setek yang tidak tumbuh karena terjadi pembusukan. Untuk menghindari hal ini ada  teknik dan teknologi yang yang perlu diterapkan dalam pelaksanaan setek batang.
Aglaonema tergolong tanaman yang tidak berkayu, hampir 80 % komposisi batangnya terdiri dari air sisanya merupakan bahan serat, hal ini membuat batang mudah layu kalau terlalu lama barada dilingkunagan yang kelembapanya rendah (kering) dan mudah membusuk apabila kelebihan cairani. Pembusukan pada kondisi tertentu biasanya disebabkan oleh aktifitas mikroorganisme baik bakteri atau jamur yang bersifat patogen.
Media tanam untuk setek sama dengan media untuk pembesaran, pada prinsipnya pertumbuhan akar pada setek adalah akar-akar kecil yang membutuhkan media yang tidak terlalu padat. Media sebaiknya dilakukan sterilisasi sehingga bebas dari mikroorganisme, menekan proses dekomposisi, dan juga mematikan benih-benih gulma yang berada dalam media.
Sterilisasi dapat dilakukan dengan berbagai cara, diantaranya dengan pemanasan (dikukus, disangrai, penjemuran,  dan lain-lain), atau dengan penambahan bahan desinfektan atau pembunuh jasad mikro bersifat kimiawi.
Cara sterilissi media yang mudah dan praktis yang bisa diterapkan yakni dengan mencampur media dengan alkohol 90 %. Prosesnya dilakukan dengan mengunakan wadah dari ember atau baskom, pencampran dilakukan secara merata dengan menyemprotkan dengan sprayer alkohol pada media sambil dilakukan pengadukan secara berulang ulang sehingga medi terlihat agak lembab dan bisa menggumpal apabila dikepal dengan tangan. Media tanam sebanyak 10 kg membutuhkan 100 ml alkohol
Media yang telah dicampur dimasukkan dalam wadak tertutup (kantong plasti atau box tertutup rapat) dan didiamkan selama 1- 2 hari. Setelah itu media dihampar dan dikering anginkan dengan asumsi untuk mengilangkan alkohol karena penguapan. Media kemudian dimasukan dalam pot plastik besar ukuran diameter 35 cm – 40 cm dan tinggg ± 40 cm. Media diisikan sebanyak separuh tinggi pot dengan asumsi apabila tunas yang tumbuh tidak melebihi tinggi mulut pot.
Berikut ini akan diuraikan tata cara perbanyakan aglaonema dengan setek batang dengan sistim semai komunal menggunakan wadah pot.
1.    Batang aglaonema yang tua dipotong dengan gunting dengan ketinggian 1 cm di atas  permukaan tanah, bersihkan dari kotoran dengan air yang mengalir atau dapat disemprotkan dengan selang air.
2.    Potong batang setek sepanjang 3 – 5 cm atau minimal terdapat 2 bakal mata tunas yang terdapat pada bahan setek. Pemotongan dilakukan dengan alat yang telah disterilkan dengan alkohol. Hasil pemotongan direndam dalam larutan Banlete dengan konsentrasi 10 gr banlete dicampur dengan 1 L air, perendaman dilakukan selama 1 jam.
3.    Benamkan batang setek dengan posisi horizontal, susun secara berbaris dengan jarak tanam 10 cm, sebuah pot penyemaian berisi ± 25 batang setek, kemudian ditutup dengan media secara tipis-tipis. Siram bahan setek dengan laruran atonik dengan komposisi larutan 20 ml atonik dicampur dengan 5 L air.
4.    Lakukan penyungkupan dengan menggunakan plastik transparan dengan cara menutup mulut pot dengan plastik kemudian diikat dengan tali dari karet sehingga plasik mengencang
Dengan penyungkupan suhu di ruang penyemaian akan meningkat, kelembapan pun menjadi tinggi (70 % - 90 %)), hal ini akan mempercepat proses metabolisma batang setek shingga mempercepat pertumbuhan akar dan keluarnya tunas.
Batang setek dapat dipindah ke pot pembesaran setelah berumur 2 – 3 bulan setelah semai, dan telah memiliki daun minimal 2 lembar.


B.            Pemisahan Anakan (split)
Perbanyakan aglaonema dengan split dilakukan pada indukan yang telah mempunyai rumpun yang banyak. Pada indukan seperti ini akan menjadikan tajuk tanaman saling berimpitan sehingga proses fotosintesa menjadi tidak optimal, persaingan akan zat harapun akan terjadi sehingga beberapa tunas anakan tumbuh tidak maksimal karen populasi dalam lingkungan itu terlalu padat.
Tahapan-tahapan pemisahan anakan pada aglaonema adalah sebagai berikut:
1.    Pilih indukan yang telah berpopulasi padat, cabut tanaman dari potnya dengan cara membalik bagian pot secara perlahan sehingga bagian tanaman berada di bawah dan bgian pot berada di atas. Bersihkan semua media yang masih menempel dengan cara merendam atau menyemprot dengan selang air sampai terlihat bagian akar dan bagian persambungan antara tunas-tunas tanaman.
2.    Anakan yang dipisahkan pilih yang sudah mempunyai akar dan minimal telah berdaun 3 lembar. Anakan dipisahkan dengan memotong bagian pertemuan antar batang akar, bagi anakan yang belum berakar dapat dibiarkan saja tetap menempel untuk kemudian dapat dilakukan pemisahan suatu saat nanti. Pemotongan dilakukan dengan hati-hati supaya tidak banyak akar yang terpotong secara recuma yang menyebabkan jumlah akar anakan menjadi berkurang.
3.    Tanam anakan yang telah dipisahkan ke pot pembesaran. Pot pembesaran dari bahan plastik berwarna hitam dengan no PL 20. Cara penanaman anakan adalah denagan mengisi separuh pot dengan media kemudian anakan diletakkan dengan posisi berada di tengah-tengah, atur posisi akar agar tidak terlipat atau saling tumpang tindih kemudian media ditambah sampi pada batas 2 cm di bawah mulut pot, tekan perlahan media disekitar anakan agar sedikit memadat sehingga anakn berdiri dengan mantap dan tegak. Lakukan penyiraman media dengan larutan atonik untuk merangsang pertumbuhan akar. Penyemprotan dengan Vitamin B 12 untuk tanaman juga perlu dilakukan untuk mengurangi stress pada tanaman. Letakkan tanaman ditempat teduh dan tidak terkena air hujan. Tanaman akan sehat setelah 3 minggu.











BAB  IV
 PENUTUP

A.           Kesimpulan
Dari hasil penulisan makalah ini dapat ditarik bebarapa kesimpulan sebagai berikut :
1.    Perbanyakan aglaonema secara vegetatif umunya dilakukan denga setek batang dan pemisahan anakan yang telah berakar
2.    Media untuk penyemaian setek sebaiknya disterilkan terlebih dahulu untuk meminimalisir batang setek menjadi busuk
3.    Pemisahan dengan anakan mempunyai tingkat keberhasilan yang tinggi karena tanaman yang dipindahkan telah memliki akar dan cepat menjadi pulih
4.    Pengembangan aglaonema memilki prospek yang sangat baik untuk dijadikan kegiatan yang bersifat komersil karena memiliki nilai jual tinggi dan harga relatif stabil.
B.    Saran

1.             Perlunya penambahan tenaga teknis lapangan di UPT Balai Benih untuk mendukung kegiatan bidang hortikultuta yang memiliki komoditas yang sangat beragam.
2.             Perlu penambahan Greenhouse untuk pengembangan tanaman hias khususnya tanaman hias yang budidayanya perlu naung
DAFTAR PUSTAKA


Seksi Pengembangan Teknologi Produksi dan Distribusi Benih Hortikultura UPT BBTPH.   2009.   Dasar-Dasar Pemeliharaan Tanaman Hias,   Banjarbaru

Saraswati, Desi,   2006.   Memperbanyak Aglonema.  PT. Penebar Swadaya.   Jakarta

UPT Balai Benih TPH Kalimantan Selatan,   2010.   Laporan Tahunan.   Banjarbaru

Wiryanta, A.   2003.   Teknik Perbanyakan Tanaman Hias.   Kanisius.   Jogjakarta

Leman,   2004.   Aglaonema : Tanaman Pembawa Keberuntungan.   Penebar Swadaya.   Jakarta.



No.
Nama Tanaman
Jumlah
(pot)

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11
12..

Pride  of sumatera
Hang-hang
Lady Valentine
Pit Lanship
Kochin hybrida
Siam ruby
Lipstik
Snow white
Selendang putri
Bulu ayam
Silver
Siam aurora


75
60
60
45
30
50
85
15
25
15
25
15



Tidak ada komentar:

Posting Komentar